Saat TikTok Ramai Lebaran, Guru Ngaji Tetap Mengajar
Di banyak kampung, suasana Lebaran mulai terasa bahkan sebelum waktunya tiba. Video hampers, outfit baru, hingga momen mudik ramai berseliweran di TikTok. Namun di balik itu, ada realita yang jarang terlihat—di sudut mushola sederhana, seorang guru ngaji masih setia mengajar seperti biasa.
Lalu, di tengah hiruk-pikuk perayaan digital itu, siapa yang sebenarnya memperhatikan mereka?
Fenomena ini masih terjadi di berbagai daerah. Di sejumlah desa, aktivitas pendidikan Islam tidak berhenti hanya karena momentum Lebaran. Guru ngaji tetap datang ke TPQ atau madrasah kecil untuk membimbing anak-anak membaca Al-Qur’an, meski jumlah santri kadang berkurang karena sebagian sudah pulang kampung.
Kondisi ini menjadi bagian dari wajah nyata dakwah di lapangan. Seperti yang sering diangkat dalam berbagai laporan di Persatuan Guru Ngaji Indonesia melalui situs resminya pgn.or.id, peran guru ngaji tidak hanya sebatas mengajar, tetapi juga menjaga nilai-nilai pendidikan Islam di tengah masyarakat.
Masalahnya tidak sesederhana itu.
Di saat konten Lebaran di media sosial memperlihatkan kebahagiaan dan kemewahan, banyak guru ngaji justru menghadapi keterbatasan. Tidak semua mendapatkan perhatian, apalagi dukungan finansial seperti yang sering dibayangkan publik. Bahkan, ada yang tetap mengajar tanpa kepastian insentif.
Dalam konteks ini, dakwah bukan sekadar ceramah atau kegiatan formal. Ia hadir dalam bentuk paling sederhana: kesabaran mengajar huruf demi huruf, membimbing anak-anak memahami dasar-dasar agama, dan menjaga keberlangsungan pendidikan Islam di tingkat akar rumput.
Di titik ini, guru ngaji bukan sekadar mengajar—mereka sedang menjaga masa depan umat.
Dampaknya tidak kecil. Anak-anak yang rutin belajar di TPQ atau madrasah memiliki pondasi nilai yang lebih kuat. Mereka tidak hanya belajar membaca Al-Qur’an, tetapi juga memahami adab, akhlak, dan kehidupan sosial berbasis agama. Inilah bentuk nyata kontribusi guru ngaji yang sering luput dari perhatian.
Namun, tantangan ke depan semakin besar. Arus digital yang begitu cepat membuat generasi muda lebih dekat dengan layar dibandingkan lingkungan belajar tradisional. Jika tidak ada dukungan nyata, maka kesenjangan antara perkembangan teknologi dan pendidikan Islam di desa akan semakin lebar.
Solusinya tidak harus rumit. Dukungan bisa dimulai dari hal sederhana: memberi perhatian, membantu fasilitas belajar, hingga memperkuat komunitas guru ngaji agar lebih terorganisir. Peran masyarakat sangat penting untuk memastikan dakwah tetap berjalan di tengah perubahan zaman.
Melalui berbagai program dan inisiatif yang bisa diikuti di pgn.or.id, upaya pemberdayaan guru ngaji terus didorong agar mereka tidak berjalan sendiri.
Pada akhirnya, realita ini mengajarkan satu hal penting. Tidak semua yang berharga harus viral. Di saat dunia sibuk merayakan Lebaran di layar, ada mereka yang tetap setia menjaga cahaya pendidikan Islam di kampung-kampung.
Sudah saatnya kita melihat lebih dekat—dan tidak lagi mengabaikan peran mereka.
Mari dukung guru ngaji, bergabung dalam komunitas, dan sebarkan kebaikan agar dakwah terus hidup di tengah masyarakat.
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Guru Ngaji Masih Bertahan di Tengah Keterbatasan
Di banyak kampung di Kabupaten Bandung, suara anak-anak mengaji masih terdengar setiap sore. Mereka duduk di lantai mushola sederhana, mengeja huruf demi huruf dengan penuh semangat. N

